Daftar Isi

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Januari 2021

Lampu Merah

Sesama pedagang asongan di kawasan Stasiun Depok Baru, di antaranya Ramlan dan Endang. Mereka tidak pernah saling cekcok perihal berlapak, malah mereka telah akur dari awal menggeluti pekerjaan itu. Dari pagi hingga malam menjelang keduanya sering terlihat bersebelahan. Mereka hanya dua orang di antara sekian banyak orang yang nasibnya sama; berjualan jajan dan keperluan kecil-kecilan orang di jalan, lampu merah demi lampu merah, trotoar demi trotoar, hanya untuk sesuap nasi keluarga dan dirinya di esok hari. Siang ini awan berlarian entah ke mata angin mana, langit begitu bersih sekaligus begitu sesak, bersih dari awan, sesak oleh polusi. Atmosfer perkotaan yang identik dengan asap kendaraan dibalut terik panasnya matahari menyengat manusia-manusia kecil. Asap dan debu jalan berterbangan, menghinggapi kulit, mengotori paru-paru, adalah resiko bagi pengguna jalan tanpa roda, para pejalan kaki, para pengasong, pengamen, dan pengemis.

Ramlan beranjak dari lapaknya, beberapa saat ia berjalan di atas trotoar dari stasiun, 

"Mau ke mana Lan, Pulang?" sahut Endang yang bersila selangkah darinya. 

"Iya," jawab Ramlan pendek. 

"Masih siang kok, pulang?" tanya Endang penasaran, padahal kurang lebih sudah begitu kebiasaan mereka, Ramlan yang memilih beranjak lebih dahulu.

"Sampai malam pun kamu di sini tidak akan ada yang mau beli, Ndang. Lebih baik kamu menemaniku pulang." Begitu pesimisnya Ramlan, entah nasehat macam apa itu. Endang yang sedang duduk di trotoar jalan Arif Rahmat Hakim itu pun termenung sejenak. Ramlan tak acuh lewat di depannya, mimik kecewa itu dibawanya dengan langkah gopoh. Endang kemudian bangkit menggendong dagangannya, berjalan cepat di atas sandal jepitnya menyusul Ramlan. 

"Tunggu, Lan!" Endang mempercepat langkahnya hampir berlari. Di perempatan jalan langkah mereka terhenti oleh lampu yang masih menyala hijau untuk kendaraan. Beberapa mobil mulai bergerak, sepeda motor melesat cepat dari area pemberhentian. Klakson beberapa kali terdengar, semua kendaraan mengejar waktu. 

"Lihat, jalanan semakin sepi, setelah pemberhentian kereta terakhir stasiun pasti segera tutup." ucap Ramlan letih.

"Kamu ngga coba ke tempat lain dulu Lan sebelum pulang?" usul Endang yang masih bersemangat, walau pakaiannya telah kalah perang, baju kaos yang tidak berlubang namun cerah birunya pudar setiap hari harus meresap keringat yang membanjir. Lap seadanya dari sisa potongan kain terbelit dileher dan topi bundar dari pasar lima ribuan mereka tawar limabelas ribu. Miris.

"Percuma, selain itu Istriku nelpon, katanya sekarang warga dilarang berkeliaran. Aku disuruh pulang." ujar Ramlan.

"Edan! Mati kelaparan kita, apa tak ada sembako untuk kita, Lan?" ujar Endang yang rautnya berubah khawatir

"Tetangga sudah dapat, Ndang. Hanya kita yang tak dianggap ada di bumi pertiwi ini sekarang." Wajah di pinggir jalan itu kecewa, dongkol tak mampu mereka ungkapkan sebersit katapun apalagi untuk berbuat. Ada pembelaan yang tertikam kondisi dan keberanian. 

"Ke pasar, Lan. Pasti ramai, mereka tak mungkin nurut anjuran. Orang akan mati seperti kita jika tak ke pasar." usul Endang tak habis pikir. 

"Orang-orang di sana adalah orang-orang keras kepala, Ndang. Aku bukan golongan mereka, Kamu tidak liat telivisi ya? Kematian sudah tinggi, mereka tetap saja tak mau taat. Hukuman seberat apapun juga tak akan mempan diterapkan untuk mereka." jawab Ramlan sok tahu. 

"Kamu benar, Lan. Justru itu kita harus tetap ke pasar sekarang. Jika kita nanti dihukum, mereka juga harus dihukum. Kita punya alasan, bukan?" jawab Endang sekenanya. Sengklek. 

"Kamu ngga mikir, Ndang? Apa ada orang yang mau mendengar alasan seperti itu dari mulutmu? Nafasmu terlalu busuk, hingga saat kamu tertangkap pertama, sebelum alasan itu keluar darimu mereka telah lebih dulu hilang dari pandangan, bersembunyi. Tak ada yang mau disalahkan, masing-masing cari aman. Jika kamu masih berkeras, cobalah saja menyebrang saat lampu berubah hijau, nasibmu tidak akan berbeda dengan mereka nanti. Sekarang kita berada di tengah kompetisi, urusanmu bukan urusan mereka, masing-masing melindungi diri mereka sendiri. Pun jika kamu tiba-tiba sekarat di jalan, mereka tak akan sudi mendekat. Engkau hanya akan mati tersiksa sendirian. Bahkan kulitmu nanti tak akan disentuh tangan, jasadmu dibungkus plastik tak disiram mandikan oleh sanak kerabat, dikubur dengan peti entah di mana. Sekarang jalan satu-satunya hidup bagi keluarga kita hanyalah berdoa, Ndang." Suara Ramlan seperti dikeluarkan dari perut, tertekan dan dimuntahkan. Mimik frustasi Ramlan telah mengecewakan optimisme Endang, firasat besar akan remuknya tulang-tulang punggung mereka menjadi-jadi, merasuk sampai keurat-urat nadi, laju darah terasa meronta, menerjang muncrat ingin keluar minggat dari tubuh. 

Semesta menelan ludahnya mendengar dan melihat bagaimana orang-orang itu hidup, wajah mereka tersapu dari jalanan bersama sampah dan debu, masuk pembuangan, juga terbang dan hilang. Lampu untuk kendaraan telah merah, kanvas rem beberapa kendaraan berdecit, hitungan mundur berwarna merah dimulai dari 50, waktu yang cukup bagi mereka untuk menyebrang namun tidak untuk melewati masa sulit. Udara masih panas dan  terik masih menyengat, bisa saja daging mereka sudah matang saat ini.

-------------------------------------

Oleh Eryn

Rabu, 13 Januari 2021

Hujan

"Kenapa malah hujan, Kas?"

Kastari memandang keluar jendela yang terbuka, awan hitam memadamkan cahaya langit. Ruang tamu semakin gelap hingga wajah-wajah keceriaan mereka pudar. Tetesan air dari langit nyaring jatuh di atap rumah, dahan dan ranting pohon bergesekan diterpa angin yang perlahan menderu. Daun-daun berkibar, yang mengering terlepas dan melayang, lalu terhempas jatuh berserakan. Desau angin yang menandakan hendak turunnya hujan ke manakah mereka? Apa jangan-jangan Kastari tengah lengah?

Hujan pun semakin lebat, tetesnya bertambah berat dan jumlahnya yang kian tak terkira mulai menciptakan genangan. Tak lama angin mendesau semakin kencang, gemuruh memalingkan Kastari dari lawan bicaranya. Suara percakapan mereka bagai ditikam di ruang tamu, tersangkanya tak lain adalah air yang tak henti menumbukkan diri pada atap rumah seng tua karatan itu. Senda gurau mereka seolah hanyut kala genangan di luar mengalir deras mencari muara.

"Berdoalah cepat reda, sehingga saya bisa cepat pulang, Kas".

Hujan memukul rata suhu di ruang tamunya, menjelma sosok dingin yang tiada dua. Ruang tamu masih suram, hingga ketika mata mereka terperangah oleh reaksi proton di langit mengakibatkan seisi ruang bak diterangi lampu pijar stadion sepakbola, selang beberapa detik saja rembetan suara ledakkannya sampai ke daun jendela dan telinga. Setelah hening mereka bersitatap dan masing-masing tersenyum di ujung bibir. Tamu selanjutnya adalah embun yang jatuh di kantung mata mereka berdua.

"Tidak, melainkan aku akan berdo'a untuk keberkahannya." jawab Kastari lalu melempar senyum tulus.

-----------------------------------------------

Oleh Eryn

Sabtu, 08 Juni 2019

Kisah Kasih

Kekasih adalah sesuatu yang benar-benar disayang. Walaupun hilang, rasa kasih tak akan terhapus dari ingatan. Mereka yang disayang akan selalu hadir disetiap peninggalannya. Dirinya sejak lama berusaha membiasakan diri terhadap situasi dimana sebenarnya dia tidak lagi benar-benar sedang bersama kasihnya. Sebuah ilusi kadang akan sampai terlihat seperti asli didepan mata, meski kenyataanya hanyalah sebuah pandangan kosong terimajinasi didalam otak yang menimbulkan effek seperti benar-benar terjadi. Sepeninggal almarhumah istrinya, sudah sering ia melihat kejadian aneh didekatnya. Kadang didalam rumah, didapur tempat biasa istrinya menanak nasi. Kadang dikebun, tempat dia dan istrinya biasa bekerja. Pernah juga ia merasa sedang berduaan diatas sepeda, berboncengan. 

Entah dari suku apa ia, dari mana asalnya, dulu ia tidak pernah mempertimbangkannya pada sosok istri yang menemaninya selama ini. Baginya kesetiaan, ketulusan, kesabaran dan kesederhanaan sudah cukup untuk menjadikan kondisi rumah tangga harmonis. Kastari hanya mengucapkan janji kesetiaan sampai akhir hayat, sehingga anak kepala dusun itu akhirnya mau dan menerima pinangannya. Kastari hanya pernah sekali bertemu dan sekali memanggil nama istrinya sebelum mereka berdua dinyatakan resmi menjadi suami istri. Tak ada istilah pacaran, setangkai bunga, sepucuk surat, atau lainnya. Kondisi perekonomian keluarganya kala itu pas-pasan, dengan hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani memaksa dirinya juga ikut bekerja keras menjadi tukang cari rumput untuk pakan ternak. Ibunya meninggal karena sakit-sakitan saat ia masih duduk di bangku SMP kelas 3. Ia ingat betul saat itu adalah hari kelulusannya. Namun kehendak Tuhan tak dapat dihindari, padahal ia ingin sekali mempersembahkan nilai ujian terbaiknya itu. Kastari peringkat 1 se-SMP. Setelah itu dia tidak melanjutkan sekolah sampai usianya dua puluhan tahun. Ayahnya ikut menyusul menghadap Ilahi ketika ia sedang dengan pekerjaannya. Bapak satu anak itu jatuh pingsan, sempat dilarikan ke puskesmas namun nyawanya juga tak dapat diselamatkan. Semenjak itu ia menjadi sebatang kara dirumah. Keseharianya dihabiskan untuk bekerja, menghidupi diri sendiri. Oleh karena bosan, akhirnya ia memutuskan mencari pendamping hidup agar ada seseorang yang bisa ia nafkahi.

Pukul tiga setengah. Dari posisi duduknya ia bangkit, lalu berjalan terhuyun-huyun ke penampungan air dibelakang rumahnya. Menciduk air dengan baskom, kemudian menyela-nyela jari-jemarinya dengan air, membasuh mukanya, tangan, rambut kepala, telingga serta kakinya. Lalu ia masuk lagi kebagian sudut rumah bersujud meminta rahmat dan petunjuk, meminta hujan, meminta kemudahan mencari makan, meminta cangkul baru, meminta kopi dan gula, meminta dimudahkan harinya, memohonkan ampun diri sendiri, orang tua, istri, sanak saudara, teman, kerabat dekat dan semua orang. Dan dimalam bulan terlalu terang hingga bintang kalah sinarnya. Penampakan bulan bulat sempurna pagi itu. Setelah lama kemudian ia bangkit dari sujud, duduk bersila.

Sinar mentari masuk melalui celah-celah genteng, lubang-lubang bilik kayu dinding rumahnya, lurus melewati kepul asap yang kian memperjelas wujud cahaya di ruang pawon kala pagi, dan di ruang tamu dikala siang. Asap memang membuat mata pedih, dulu sampai tak terasa satu meter dari tungku. Justru menjadi lokasi mencari kehangatan dikala suhu udara dingin membeku. Semangat api, terkubur waktu, kehangatan sirna. Ia bangun, mengasah sabitnya didekat bak tampungan air. Mempersiapkan perkakas kerjanya. Kastari adalah buruh tani, kadang disawah, kadang mencari rumput, kadang memotong kayu, kadang menyadap karet, semua bisa dilakukannya. Pernah sesekali ia jadi seperti pengangguran. Yang digarap adalah tanah milik tetangganya, yang dicarikan rumput adalah ternak tetangganya juga. Kastari memotong pohon-pohon tumbang dari hutan. Tanah miliknya hanya tanah dibawah rumahnya, tak lebih dari sepuluh meter persegi. 

Pagi ini kastari berangkat bekerja. Dia berangkat ke ladang membawa serta perlengkapannya untuk mencari semak liar pakan kambing pak Supri. Kemarin pak Supri datang kerumahnya meminta dicarikan rumput untuk kambingnya. Pak supri biasa menyuruh kastari dihari-hari tertentu seperti jika sedang ada acara atau hari raya. Namun jika tidak, pak supri mencarinya sendiri dengan sepeda motornya. Ekonomi pak Supri memang jauh lebih mapan, namun ia tak sombong. Sedangkan kastari biasa membawa pulang rumput diatas sepedanya. Sepedanya sudah tua umurnya, namun tetap tangguh dimedan lumpur bebatuan membawa rumput sekandi penuh. Pak supri minta 2 kandi, itu artinya ia perlu 2 kali pulang pergi. Sebenarnya estimasi waktu yang ia perkirakan adalah 2 jam pulang pergi dengan waktu istirahat 15 menit. Hanya saja itu akan tercapai jika rumput liar melimpah seperti dulu. Sekarang banyak pembangunan ditanah-tanah kosong, pembukaan lahan untuk perkebunan, oleh karena itu rumput menjadi barang mahal dan banyak dicari keberadaanya. Barang langka seperti rumput dibeberapa area sudah ada pemiliknya, ditandai dengan tongkat berbendera plastik. Peraturanya adalah siapa yang memasang tongkat dialah pemilik rumput lima meter persegi di sekeliling tongkat itu. Kenyataanya kadang berbeda, tangan nakal kerap mencuri-curi kesempatan membabat habis rumput yang ditandai orang lain. Jika tidak seperti itu maka mereka harus mencari rumput sampai ketempat yang sangat jauh. Itulah yang biasa dilakukan Kastari, ia rela berkorban tenaga dan waktunya ketimbang memakan uang haram. 

Ia lewat jalan terjal di samping rumahnya. Jalan tanah satu-satunya yang bisa dilewati untuk pulang pergi dari rumah ke pusat peradaban. Hanya rumahnya dan 1 rumah disebelah miliknyalah penghuni tanah di atas tebing yang ada sungai disebelahnya ini. Sembari memegang sepeda ia menuntunnya naik ke puncak jalan. Kemiringan dan ketinggiannya cukup membuat hilang ingatan, was was, menarik nafas dalam, letih sedang dan sedikit keringat dingin. Sungguh perjuangan badan seperti membudak diri ketika harus naik, namun pejuangan bukan tidak diperlukan disaat turun dan semaunya tinggal meluncur dijalan ini. Seseorang yang tidak pernah merasakan medan ini sudah cukup akan membuatnya lepas dari jalan, terbang lurus, dan jatuh bebas sampai ke dasar sungai. Pagi ini Kastari sengaja berangkat pagi mendahului singsing mentari pagi. Bahkan kabut belum sempat hilang. Mengembun didedaunan, jaring laba-laba, kulit wajahnya, batang besi sepedanya yang juga ikut basah terpapar embun pagi. Tetes embun kian menebal menjadi butiran-butiran air yang membasahi setiap jengkal kehidupan di kampung. Kadang kabut tebal dipagi hari juga pertanda turun hujan dimalam hari itu juga. Namun kabut juga memberi isyarat bahwa terik mentari akan sangat menyengat kulit disiangnya, awan akan sebening gelas, langit akan sebiru laut, sisa-sisa awan mungkin hanya akan terlihat pojok bumi saja, dan panasnya membakar, haus kering kerongkongan. Kastari berpakaian lengkap dengan basahanya, kerudung, topi, dan sarung tangan sebagai pelengkapnya. Untunglah, suasana bekas hujan semalam membekas dijalan. Licin, berkubang air dan sejuk. Sekian menit setelanya ia sudah berhasil melewati jalan terjal ini. Tergopoh-gopoh, dadanya naik turun, mata berkunang, sempat sedikit hilang keseimbangan. Sepedanya memang membantu sekali dikeadaan seperti ini, rasanya ia sudah akan jatuh terkapar jika tidak sambil bersandar dan bergantung tangan di sepeda. Di samping kanan kubangan air sekarang ia berdiri memegang kendali sepedanya. 

Kubangan air itu bekas hujan semalam. Ia lewati pinggirnya agar kubangan itu tak bertambah dalam dan ban sepedanya tidak menjejak bekas. Ia takut orang lain tau saat melihat jejak bekas ban sepeda yang berlumpur dijalan dan beranggapan bahwa "si kastari" orang yang tak peduli kebersihan, ia orang yang tak berpikir panjang, dan lugu. Oleh karenanya, ia tuntunkan sepedanya memutari kubangan kecil itu sebelum akhirnya sampai di tepi jalan aspal. Meski begitu tak ada salahnya melakukan hal yang berbeda dari pada melakukan hal yang biasa dilakukan. Kadang orang memang hanya melakukan sesuatu hanya karena kebiasaan, atau sekedar meniru gaya orang lain tanpa memikirkan untuk melakukan hal yang berbeda dan memikirkan kenapa kebiasaan itu mesti dilakukan padahal sesuatu yang berbeda itu bisa saja memberikan lebih. Jalan orang-orang yang benar adalah jalan yang dilakukan sesuai perintah Tuhan, bukan jalan sesuai kebiasaan nenek moyang. Kastari meyakini itu, dan ia meminta petunjuk dari Tuhanya. Namun jalan aspal didepannya lebih tinggi beberapa senti saja, petunjuknya adalah sebuah nasehat keselamatan kepada manusia agar berhati-hati, setidaknya kondisi ini sedikit menghambat roda mengelinding. Sehingga ia harus tetap mengangkat roda depan keatas jalan agar sepedanya tetap bisa didorong. Namun cara ini beresiko tinggi mengakibatkan kecelakaan dijalan. Jika momenya kurang tepat, bisa jadi kendaraan yang melintas tidak lagi peduli dengan moncong sepeda ditepi jalan dan melindasnya. Kastari beri sedikit gaya bagian depan sepedanya agar bisa naik di jalan aspal. Sepintas terlihat ban sepeda yang nampak tipis dan halus dimakan jalan, lumpur basah masih melekat dan meninggalkan jejak dijalan. Kastari biasa membawa sepedanya kesebrang jalan sebelum dinaiki. Namun karena nampak sepi ia coba menaikinya langsung setelah semua rodanya sudah naik ke badan jalan. Ia terlena menghadapi situasi nyaman berada dijalan yang tidak berlumpur ini. Sepeda akan dapat tegak berdiri, rodanya sejajar tinggi, kontrol penuh terhadap sepeda yang biasanya tangan harus kuat mencengkram, kaki kuat mengayuh dan sesekali turun menyeimbangi rasanya tidak perlu lagi. 

Kastari berpesan kepada bumi, embun pagi, kepada sosok yang dirindukan, kepada udara dingin yang menyelimuti, kepada malaikat pemberi rahmat, serta kepada segenap peninggalan. Jika ia tak kembali, harapannya ada yang tahu ke arah mana kastari pergi terakhir dilihat. Mungkin tinggal jasad atau hanya sekedar jejak kaki. Sekiranya hanya menjadi cerita misteri, kastari harap itu cerita yang memberi banyak nasehat, nama baik dan penyemangat ditelingga mereka. Lalu pagi itu ia usahakan dengan niat hati tulus bekerja lebih untuk membantu orang lain, agar kehidupan dapat berlanjut dan waktu dapat terus berjalan. Agar kambing pak supri mendapat asupan gizi, agar pak Supri bisa menghidupi keluarga, agar apa yang dilihat mata menjadi benar apa yang dirasakan, senyuman, rasa iba, dan uang pemberian itu menjadi halal dimakan. 
Dirinya hanya perlu merasakan, dan melupakan keselamatan. Keraguan yang biasa muncul sebagai penolong tidak hadir dipikiran, Kastari lebih memilih membuka lebar rasa percaya diri. Hampir saja ia dapat merasakan kebahagiaan, namun tiba sesaat itu juga suara klakson menyambar keras kedalam telinga. "Tinnnnnnnn..." Tubuhnya sangat cepat bergerak merespons, namun gerak motor lebih cepat. Dalam sekejap Ia bergerak menghindar, namun ia sadar bahwa tak sempat waktu dan tak cukup tenaga. Ia hampir tak punya pilihan, sedangkan rasa penasaran akan mati mungkin akan benar bisa dirasakan. Terpelanting, patah tulang, kulit terkelupas, perih, darah mengalir, sesak nafas, kejang, mungkin tak sadar diri, atau hanya sekedar lupa ingatan jika beruntung. Sekejap saat itu terasa panjang? Atau proses berpikir kastari saja yang kali ini lebih kencang terpacu keadaan? Hampir saja ia pasrah namun tiba-tiba, suara memanggil.

“Kas…!, kastari!” 

Suara semakin jelas ditelingganya. “Bangun, Kas…”. Sesosok mahluk dipandangannya terlihat kabur memanggil-manggil namanya. Lama kelamaan makin jelas wujudnya dan jelas itu bukan malakiat maut yang ingin menjemputnya. Seorang manusia.

“Supri...?” sahut Kastari tak percaya.

Di hari berikutnya, Kastari hanya bisa terbaring dirumah sakit. Nampaknya kejadian kemarin membuatnya benar-benar merasa aneh. Kepalanya pusing, perutnya mual, tubuhnya lemas, sementara selang infus tertancap di lenganya, orang-orang silih berganti keluar-masuk menjenguk Kastari. Pertanyaan yang sama dijawab dengan jawaban yang sama; Kastari kenapa? Kastari ditemukan terbaring dipinggir jalan masih lengkap dengan kopiah dan sarungnya pukul tujuh pagi, mengigau berteriak memanggil nama istrinya. Pak Supri yang kebetulan lewat jalan itu mendengar teriakan berusaha mencari sumber suaranya. 

Kisah Kastari masih ramai diperbincangkan sampai berbulan-bulan kemudian. Diceritakan dengan nalar, prasangka, suasana hati, kondisi, dan sebatas yang pencerita dengar dari cerita yang diceritakan, sedikit dibumbui, dibawakan serius. Sementara Kastari menganggapnya sebagai kasih Tuhanya, yang lain anggapnya sepele, guyonan seru, dan bermacam versi lainnya. 

-----------------------------------------------

Oleh Erdiyanysah

Jumat, 24 Mei 2019

Dua Senyum yang sama



Kami berempat duduk berdekatan dibawah kipas diatas karpet membincangkan rencana mudik akhir semester. Ini mungkin akan menjadi momen terakhir kami bisa duduk berselonjoran bersama.  Tak ingin  beranjak dari tempat duduk, kami lanjutkannya dengan berbaring. Masing-masing kami pribadi sekarang dengan kesibukannya, sementara aku dengan handphoneku, yang satu dengan handphonenya juga, yang dua dengan al-Qur'annya, dan yang tiga dengan laptopnya. Namun kami masih tetap dalam suasana yang sama di bulan suci ini. Koneksi Wifi yang lancar menambah kenikmatan suasana berkumpul di tengah hari yang cerah seusai Jum’atan. Aku putar ceramah ustadz yang cukup sering terdengar namanya ditelingga para pejuang perantauan seperti kami berempat. Judulnya menginspirasi "70-100 kali Nabi Muhammad SAW beristigfar dalam sehari", mereka terlihat nyaman mendengarnya begitupun aku yang sangat khidmat dengan suara nasehat ini. Low Battery membuat video yang diputar tak sempat sampai akhir kami simak.  Aku tak mendengar mereka bertiga bersuara lagi, kupikir mereka menyimak video ini bersamaku ternyata ketiganya terlalu nyaman sampai terlelap.
Menghela nafas panjang kemudian aku memikirkan aktivitas sejam yang lalu. Temanku yang pertama memposting status barunya di akun WhatsApp. Sebuah lantunan kata-kata dengan background suasana pemandangan yang masih asri. Di zaman ini, handphone sudah menjadi kebutuhan. Di era yang komunikasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja ini, whatApp wajib terinstall dihandphone masing-masing individu. Tak heran jika hampir setengah hidup manusia dalam sehari dihabiskan untuk berselancar di akun WhatApp mereka. Menjadi sangat penting bahkan jika seorang mahasiswa seperti saya tidak aktif beberapa hari, akan kehilangan arah, berhenti di ditengah arus kehidupan. Aku membayangkan masa lalu, mungkin aku yang sekarang tidak akan mampu menjalani hidup dimassa dimana komunikasi berlangsung hanya jika bertatap muka. Sementara dizaman ini, orang dikecam karena lambat dihubungi. Bagaimana orang pada masanya jika punya urusan penting dengan orang yang jauh mengharuskan adanya komunikasi? Selambat itu kah? Apakah mereka tak bosan menunggu surat balasan? Pikiranku mulai jauh, tapi ponselku tetap disampingku dengan baterai yang masih kosong dayanya. Lantunan merdu di sebuah video status yang backgroundnya sebuah pemandangan makin membuat otak berusaha memunculkan ide pikirannya sendiri.
"Akan bagus dipandang orang jika kita bisa merekam sendiri footage video status kita yah", kata temanku yang satu. Aku dan juga temanku yang satu, dan dua teman yang lain bergerak dengan dua motor memulai perburuan mencari view pemandangan yang bagus untuk dijadikan footage status di whatsapp. Berbonceng dua-dua kami menuju suatu tempat yang tidak diketahui namanya. Melewati pasar, jalan beraspal, dan ada sebuah tol disana. Di samping kiri jalan ada bagian bekas penggalian tanah ditumbuhi semak belukar dan rumput liar telah lama sudah ditinggalkan. Jika kami teruskan lurus akan ada sebuah jembatan flyover kearah yang entah kemana juga. Kuda besi yang kami tunggangi tetap melaju turun ke kiri jalan melewati bekas galian dan akhirnya berhenti di dekat kaki-kaki penyangga Flyover. Tepat diatas kami berlalu Lalang ramai kendaraan melintasi flyover. Tanpa lama dari kami berhenti, kami sudah melengkapi diri dengan persenjataan berburu masing-masing. Satu handphone yang kameranya cukup lumayan dipegang temanku yang satu. Satu senapan ditemanku yang lain, satu lagi sudah ada ditangganku sendiri. Matahari terik di cuaca yang cerah ini memaksa kami berlindung di bawah badan jalan flyover. Namun semangat berburu kami tak sampai terbakar tak juga padam. Nyatanya temanku dengan ponsel ditangannya sudah merekam sesuatu. Aku melihatnya sedikit aneh, yang ia rekam hanya serangga yang hinggap di dahan rerumputan. Viewnya cukup nyaman dimata, tapi itu hanya sekedar iseng saja. Kami masih berusaha mencari disekitar lokasi sesuatu yang menarik dan mempesona mata. Aku tak temukan sesuatu apapun, kupikir mereka kesini hanya main-main saja, sedikitpun aku tak beranjak dari posisi, kedua temanku malah sibuk dengan senapan dan tak berkontribusi dengan ikut mencari.
Aku tidak mau perjalanan ini hanya membuang keringat saja. Apalagi yang kedua temanku lakukan hanya mengotak-atik senapan plastik. Padahal cuaca makin panas, kendaraan yang berlalu lalang di flyover tak menghiraukan keluh kami mencari. Lelah mencari, Aku mencoba senapanku sendiri, aku menekan hampir tak sengaja. "destt.." peluru plastik meluncur cepat keudara. Cukup menarik juga memainkan senapan disini. Aku mencoba menembakkanya ke arah lain dengan menarik pelatuknya sekali lagi. "desstt.." Ternyata peluru plastik cukup kencang melesat keluar dari selongsong senapan. Dengan ini mungkin aku bisa memberi rasa sakit pada sesuatu. Sekelilingku tak ada sesuatu untuk disakiti. Didepan kami, dibawah flyover kami duduk berlindung dari panas matahari ini sebuah sungai kering kerontang yang cukup lebar ditumbuhi semak belukar di pinggirnya. Semak belukar cukup menutupi pandangan kedasar sungai itu. Diseberang sungai itu, berdiri sebuah bangunan seperti tempat penginapan. Terlihat sudah usang dan lama tidak berpenghuni. Jendela kaca transparan nampak pecah menyisakan lubang sebesar genggaman tangan menarik perhatianku. Aku membidik bagian lubang itu, menarik pelatuk senapan sekali lagi. "desstt.." "Tingg.." peluru memantul membentur kaca. Aku masih penasaran sehingga mencoba peruntunganku sekali lagi. Kali ini aku mencoba dengan meningkatkan akomodasi, dan konsentrasi menarik perlahan seraya berhati-hati.  Aku berusaha membayangkan bagaimana proses senapan ini menembakkan pelurunya, layaknya sebuah time laps. Saat pelatuk ditekan, bagian dalam senapan ikut bergerak memompa udara dengan kuat, mendorong peluru melewati selongsong senapan kemudian keluar dan menembus lapisan udara bebas menuju target bidikan. Sangking meresapi imajinasi yang aku bayangkan semampunya, semakin percaya diri aku dengan kesempatanku yang ketiga ini.
"Besstt..." eh ternyata... aku bukan heran, tapi lucu melihatnya. Bukan lagi peluru yang keluar, eh malah tali karet panjang kini melintang dari ujung senapan lewat diatas sungai dan akhirnya masuk ke lubang kaca itu. Entah siapa yang mengganti peluru dengan tali karet ini, padahal sejak tadi tidak ada yang menyentuhnya selain tanganku. Keanehan ini semakin terasa jelas satu-persatu. Tapi kali ini bisa dikatakan bidikanku tepat sasaran. Kuhentikan main-main ku dengan senapan ini. Memandang kesekeliling tempat kami berteduh. Saat memandang kearah kanan atas 60 derajat keudara, pandanganku bukan lagi sisi jalan flyover yang semestinya terlihat. Sekarang entah darimana datangnya dan sejak kapan rumah tepat dipingir jalan Flyover ini muncul. Semakin aku memastikan, malah semakin jelas penampakan rumah dengan model panggung sederhana yang biasanya sering digusur polisi pamong dikota-kota. Sekilas nampak sesosok perempuan tak berhijab, tergurai rambutnya terlihat melalui jendela di dalam rumah. Atau mungkin kami saja yang tak sempat melihat ada rumah disini dari tadi. Padahal jarak rumah dipingir jalan itu kira-kira tak lebih dari 20 meter dari posisi kami duduk. Mungkin penat dan teriknya mentari membuat fatamorgana muncul dan menghilangkan benda-benda muncul dimata.
Sementara aku masih mengamati rumah itu, temanku yang pertama dengan kameranya nampak serius merekam sesuatu. Dua temanku yang lain juga tampak serius memperhatikan sesuatu didepannya. Benar saja, aku dikejutkan lagi oleh dua ekor monyet ekor panjang yang tiba-tiba sudah ada didepan kami. Monyet itu bergelantungan di cabang pohon kering dipinggir sungai. Mereka nampak sedang bermain-main, atau mungkin sedang tak sengaja lewat disekitar kami. Kejadian langka seperti ini memang perlu diabadikan. Aku rebut handphone dari temanku yang pertama agar aku bisa merekamnya sendiri. Aku mulai merekamnya, landscape, dengan resolusi kamera terbaik. Memastikan agar hasilnya sesuai harapan, berhati-hati berharap dua ekor monyet yang sedang saling bercengkrama itu tidak kabur.
"Desst..." tembakan terdengar. Fokusku hilang dari merekam, mencari sumber suara tembakan. Dua temanku yang dari hanya asik dengan senapannya itu malah menghilangkan kesempatan yang langka ini. Penampakan dua ekor monyet itu hilang dari rekaman. Apakah mereka tak merasakan kulitku sudah terbakar hampir gosong tersengat matahari. Emosiku mulai tak tertahan lagi melihat ulah mereka berdua. Ingin rasanya ku patahkan tulang-tulang ditubuh manusia yang dua ini, namun aku taktega. Aku hanya bisa menahan amarah di cuaca yang masih panas ini. Aku putar ulang rekaman video yang sempat diambil sebelum monyet itu pergi. Tidak begitu mengecewakan rupanya, hanya saja mungkin ini bukan waktu keberuntungan kami dengan hanya mendapat sedikit view saja. Setelah lama mencari, dengan peluh kesah dan baju basah keringat, perolehan kami tak bisa banyak jika di tempat ini saja. Oleh karena itu kami memutuskan beranjak dari posisi dan mencari tempat lain. Kami berempat berjalan kaki melawan arah kami datang ketempat ini menyusuri pinggir sungai.
Lama kami berjalan tidak menemukan apapun yang menarik. Daerah yang kami datangi ini sepi penduduk, padahal lalu lintas ramai dijalan. Rumah-rumah penduduk hanya satu atau dua terlihat berjauhan. Kami putuskan untuk mencari tempat istirahat dan mencari minum untuk membasahi kerongkongan yang kering kerontang sejak tadi. Kami terus berjalan kearah yang sama, kearah pemukiman yang lebih ramai. Tidak lama kemudian nampak keramaian didepan kami, ada kios bensin diseberang jalan dan pasar tradisional yang agak sepi. Didepan ada gubuk sederhana yang kami kira itu toko yang biasa menjual kemplang atau kue oleh-oleh yang biasa ada dipinggir jalan. Setelah lebih dekat ternyata itu lebih mirip sebuah rumah sederhana yang mungkin ditinggal pergi penghuninya.
Kami lewat tepat didepan rumah itu. Aku penasaran dengan terus mengamati sejak dari kejauhan, melirik kesemua sudut rumah, mencari sesuatu kejanggalan yang mungkin muncul lagi. Sekilas sebelum pandangan kualihkan, saat itu juga dari dalam rumah melalui pintu yang setengah terbuka, seorang wanita keluar. Usianya tak lebih tua dari saya. Nampaknya ia sedikit malu melihat kami lewat memperhatikannya, ia nampak ragu melangkah lagi, berhenti didepan pintu, tersenyum. Seperti aku pernah melihat wajah itu disuatu tempat, aku kenal senyumnya. Dan pasti benar itu dia, mataku sedang jeli melihat saat sedang berjalan. Padahal aku ingin lebih lama melihatnya, namun sekilas, lalu ia kembali masuk.
Sambil terus berjalan aku berusaha memastikan senyum itu, mudah-mudahan aku tidak salah kali ini. Sebenarnya sosok itu adalah seorang yang pernah memanggil dengan namaku sekali saja. Tak banyak yang aku ingat karena sudah lama berlalu. Tak ingin kehilangan kesempatan ini, beberapa meter dari rumah yang membuatku penasaran itu aku berbalik arah tanpa sepengetahuan ke tiga temanku. Aku kembali dan ingin melihat kondisi dirumah itu lagi. Kali ini kuberanikan untuk lebih dekat melintas, melewati celah atap daun nipah kering yang masih digantung di teras rumah, lalu melintas tepat didepan pintu. Benar saja, wanita itu ada disana, ia nampak sedikit terkejut aku muncul tiba-tiba dari balik daun nipah kering itu. Aku tak berniat meyapanya dan langsung lewat saja setelah melihat lebih dekat wajahnya. Ia hanya terpatung menutupi senyum diwajah dengan tangan. Padahal aku berhasil melihat senyumnya dua kali.
Dan suara Adzan pun terdengar saat itu juga. Suara itu nampak lebih nyata dari apa yang aku rasakan. Aku memeriksa lagi pendengaranku, mengambil rangsangan suara itu dan memasukkannya ke bagian pikiran yang masih kosong. Mulai nampak jelas apa yang telingga dengar, dan terasa menipu apa yang sedang terjadi sekarang. Aku mulai sadar dan akhirnya terbangun. Suara adzan ini lah yang memang nyata, aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 15.25 WIB. Sementara ketiga temanku, yang pertama masih terpulas tidur, yang kedua sudah duduk dedepan laptopnya, dan yang ketiga berusaha menyadarkan diri sendiri.

-----------------------------------------------

Oleh Erdiyansyah


Sabtu, 16 Februari 2019

BUS KOTA

Cuaca masih hujan rintik, tak sampai basah kuyup jika aku langsung turun dari mobil dan mencari bus lagi. Sudah sejam lebih hujan turun, tapi tak ada tanda mau berhenti. Tuhan memang pemberi dan tempat meminta. Ia memberi kapan saja Dia mau, dan hambanya  meminta semaunya. Dari dalam mobil aku memandang jauh ketempat tujuan, ada rasa khawatir aku tak sampai rumah ketika melihat mendung tak kunjung hilang.

Diperempatan jalan, mobil yang sedang aku tumpangi berhenti. 3 bus didepan mata membuatku lega. Supir ojek memang harus lebih tau medan jalan yang dilaluinya. Salah langkah malah bisa keluar ongkos pulang. Ia tau tujuanku dan tau cara tercepat sampai tujuan. Aku berfikir jauh tentang itu, tapi ada yang membuatku merasa takdir memang sesuatu yang telah ditentukan masa dan tempatnya. Dipintu depan pintu bus yang terparkir, aku melihat seseorang. Aku tak mungkin salah orang, dia kernek bus yang sama dibus tadi pagi. Sekarang jadi kernek bus yang akan aku tumpangi untuk pulang. Aku angkat kaki dari aspal jalan dan masuk lewat pintu balakang. Ternyata, seorang yang baru saja aku hubungi lewat pesan singkat, juga tak senggaja dan tak direncana malah ada dibus yang sama, tepat didepan mata aku berdiri. Ia juga mahasiswa difakultas yang sama denganku, namun berbeda prodi. Aku ambil tempat duduk disampingnya.

Sore itu pikiranku memang dihiasi dengan kisah orang-orang dewasa. Melihat mereka bebas berekspresi membuatku bertanya-tanya kapan aku bisa menjadi dewasa. Tak salah mereka mau berbuat begini dan begitu. Tapi seharusnya, aku sebagai penumpang diberikan pelayanan terbaik, malah sebaliknya kakiku ditindihnya dengan badan. Ia bersender didekat pintu seolah tak merasakan keberadaan manusia lain dibelakannya. Aku sempat mengadu batin, tapi tak mungkin berbalas budi. Aku merenunggi kerasnya hidup jika memang harus berakhir cepat pada bapak yang baju dibadanya lembab menindih dengkul kakiku. Bagaimana keluarganya dinafkahi dari pekerjaan keras dan penuh perjuangan seperti ini. Entahlah aku hanya ingin semua  orang dewasa bisa berkisah pada anak cucunya. 

Sedikit bincangku diperjalanan. Tubuhku agak terasa lesu. Energi seharian dikuras untuk berpikir semu. Bayangan malam nampak dari jendela. Lampu-lampu gemerlap disudut pintu, teras rumah, dan ditiang lampu jalan. Seseorang memakai topi merah membawa kantong plastik hitam tak kebagian tempat duduk yang nyaman. Terpaksa ia berikan tempat duduknya kepada wanita yang tak ia kenal. Sebenarnya ada kursi plastik yang biasanya disediakan jikalau  bus kelebihan muatan penumpang. Tapi ia lebih memilih berdiri. Dari keriput wajahnya, kumis tipis, gaya bicara santai, penampilan semi moderen dengan celana Jeans dan baju kaos hitam ia berumur tak sampai angka 40.
Satu-satunya orang yang aku heran melihatnya, berdiri sedangkan ada kursi dibawah pantatnya. Dan ia juga sempat menolak membayar ongkos sesuai tarif pasaran bus ini. Roda yang baru mengelinding dijalan mengoyang badan seisi penumpang dan barang bawaan didalam bus. Aku bayar 10 ribu, lalu kernek itu meminta kepada yang lain. Kakiku akhirnya terbebas beban punggung basah. Teman disampingku sedikit bercerita kisahnya hari ini. Ia ingin bersalam sapa teman masa SMA yang kebetulan mampir kekota menjenguk keluarga dirumah sakit. Jarak memang pemberi semangat ingin bersua ke jiwa yang pernah bersama. Aku hanya bersikap selolah paham betul dan memaknai apa yang ia sampaikan. Setidaknya agar ia tidak merasa diabaikan dan senang berbagi cerita.

Awalnya bapak itu membayar setengah harga, tapi kernek itu memaksa membayar penuh. Ia seperti tak mau beradu suara, lebih memilih diam dan setuju. Padahal mungkin bapak itu tak mau membayar karena alasan lain. Padahal ia juga tak mendapak kursi yang layak dan hanya berdiri. Ia nampak baik-baik saja, padahal mungkin sedang kecewa. Tak ada yang benar-benar dapat memperkirakan sesuatu dengan tepat memang. Kernek tak tau menau soal isi hati penumpang bertopi yang sedang mencengkram erat sandaran kursi agar tetap seimbang. Aku masih tetap ragu kenapa ia tidak duduk, padahal dibelakannya ada kursi plastik bukan sofa. Makin dalam aku pikirkan malah tak menemukan jawaban. Setengah jam berlalu. Perkiraanku sampai tujuan saat adzan magrib berkumandang, lalu aku turun dan hujan sudah berhenti.

Bus tiba-tiba berhenti di pertigaan jalan. Bapak itu turun. Aku terheran. Sementara orang lain tak paham, aku, kernek, dan topi merah, juga kantong plastik itu pasti mulai paham situasi. Terlontar kata sesal dari mulut. "Ohh, ternyata..."
Aku sempat melihatnya tersenyum sebelum jauh berlalu dari pandangan. Roda Bus yang kembali berguling membawa sebuah pesan. Meskipun seperti ketidakadilan, namun jika engkau yakin tuhanmu maha pemberi lagi maha penyayang semua masalah tak harus disikapi dengan berkeras hati. Aku mungkin orang yang paling dinasehati, bagaimana mungkin orang lain mau membayar penuh apa yang ia beli, jika ia sendiri hanya diberi setengah dari apa yang dia beli sedangkan bapak bertopi merah tidak merasa seperti orang yang dizalimi. Ia seperti ikhlas memberi kepada kita, dari pada berburuk sangka dan memaksa. Mungkin ia berpikir 5 ribu itu cukup bermanfaat kepada orang lain dari pada menjadi beban pikirannya dan uang haram bagi penerimanya. Sang Pencipta lebih tau mana hati manusia yang ikhlas memberi. Aku berdoa untuk kelancaran rezeki dan keselamatan untuk bapak itu. Dengan peristiwa itu, perjalananku menjadi lebih berarti dan penuh makna.

Bintang mulai bercahaya, dan aku masih belum sampai tujuan. Duduk sendirian memang terasa lebih nyaman. Namun perjalanan perlu dilalui dengan berdiri dan berjalan.

-----------------------------------------------

Oleh Erdiyansyah

Posting Unggulan

Tak Renta

Menghabiskan sisa umur yang tak lagi muda bukan gampang. Meski seluk beluk kehidupan dengan berbagai macam cobaannya telah banyak dilalui. T...